banner 920x90

Dugaan Kekerasan di Balik Kematian Mahasiswa Teknik Unhas saat Diksar Mapala

  • Share

MAKASSAR, Newstime.id – Mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Virendy Marjefy (19) yang tewas saat Diksar Mapala Fakultas Teknik meninggalkan petunjuk dugaan kekerasan. Dugaan kekerasan tersebut terkuak melalui pesan singkat di ponsel Virendy.

Ayah Virendy Marjefy (19), James Wehantouw mengatakan di ponsel tersebut tersimpan sejumlah percakapan chat Virendy yang curhat tentang kekerasan yang diterimanya.

Dilansir dari detiksulsel. “Dia baku chat sama temannya di handphone-nya dia (Virendy) bilang untungnya dia pake kaca mata jadi tappe’-nya (tempeleng) senior tidak ke arah mata,” kata James, Jumat (27/1/2023).

Kendati demikian, tidak diketahui kapan terjadinya kekerasan tersebut. Namun James mengatakan curhatan anaknya terkait perlakuan senior yang kemudian diceritakan kepada teman kampusnya.

Bukti chat ini dikatakan James telah diserahkan kepada pihak kepolisian.

“Banyak itu di handphone-nya, tapi saya tidak tahu persis itu karena anak saya (kakak Virendy) yang kasih screenshotnya ke penyidik polres Maros,” kata James.

James menambahkan dirinya dan keluarga baru sempat terpikirkan untuk mengecek HP milik Virendy lantaran tidak mengetahui passwordnya. Setelah rekan Diksar yang ikut bersama anaknya memberi tahu baru bisa dibuka.

“Belakangan baru ada informasi, kita kan tidak tahu passwordnya tapi salah satu peserta itu, dia (Virendy) titip nomor passwordnya, terbukalah,” ucap James.

Namun James tidak bisa memberikan lebih detail lagi tentang isi pesan yang ada di ponsel anaknya tersebut. Meski begitu James mengungkapkan terdapat beberapa pesan yang sudah ditarik.

“Ada beberapa chatnya ku dapat yang sudah ditarik,” ujar james.

Petunjuk Lewat Alkitab
Selain percakapan chat di ponselnya, James mengatakan Virendy juga meninggalkan petunjuk di dalam Alkitab miliknya. Virendy diketahui membawa Alkitab ke lokasi diksar.

Baca Juga  Biadab! Bocah 12 Tahun di Luwu Timur Diperkosa 5 Pria

“Kakaknya penasaran apa itu yang dibaca Virendy di Alkitab, terus kakaknya minta dibuka Alkitab yang dibawa ke lokasi. Ternyata itu ada dia beri garis bawah warna kuning baru dia lingkari,” kata James.

James mengatakan Alkitab yang diberi tanda oleh Virendy seolah menggambarkan kekerasan yang dia alami selama proses Diksar. Sebab setiap ayat yang berkaitan tentang kekerasan diberi tanda menggunakan pulpen miliknya.

“Isinya itu kesannya menggambarkan apa yang dia alami, yang bilang dia disiksa ditindas itu ayat-ayat semua yang dia lingkari,” ujar James.

Selain itu, berdasarkan cerita peserta Diksar lainnya Virendy memiliki kebiasaan menyendiri membaca Alkitab dan memegang pulpen di lokasi.

“Teman ceweknya yang peserta bilang itu kita (peserta) kalau malam di kemah, kalau dia (Virendy) belum bisa tidur dia menyendiri baca Alkitab pegang-pegang pulpen,” ucapnya.

Mapala Teknik Unhas Bantah Ada Kekerasan
Sebelumnya, Ketua Mapala Fakultas Teknik Unhas Ibrahim membantah dugaan kekerasan di kasus Virendy Marjefy. Dia menegaskan diksar merupakan bentuk pendidikan sehingga tidak ada kekerasan.

“Yang pertama ini kegiatan pendidikan dasar ini kita bukan kali pertama kita lakukan ini sudah 27 kali sampai yang kemarin dan dari kami sangat terpukul dengan kondisi kemarin kondisinya itu bukan kita yang minta tidak diinginkan oleh siapapun,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Minggu (15/1) malam.

Ibrahim menjamin tidak terjadi kontak fisik saat proses diksar itu berlangsung di Maros, sejak hari Senin hingga hari Jumat. Mereka hanya melakukan pembinaan sebelum Diksar itu berlangsung dengan membekali persiapan materi maupun latihan.

“Kalau dari pihak panitia tidak ada sama sekali kekerasan kontak fisik yang ada kita hanya melatih fisiknya untuk bagaimana dia caranya bisa disiplin dan lain-lain. Ini sebelum perjalanan kan ada persiapan mulai dari jogging, bina materi, latihan simulasi renang dan lain-lain,” jelas Ibrahim

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *